Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

shaff wanita dalam sholat

Apakah dalam shaf wanita disyaratkan harus lurus dan teratur? Apakah hukum shaf yang pertama dengan shaf yang lainnya sama bagi wanita terkhususkan bila tempat shalat mereka jauh terpisah/tersendiri dari tempat jamaah laki-laki?

Jawab:
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Apa yang disyariatkan dalam shaf lelaki juga berlaku bagi shaf wanita dari sisi kelurusan dan keteraturannya. Shaf yang ada harus disempurnakan (dipenuhi) terlebih dahulu, baru dibuat shaf yang berikutnya dan celah yang ada harus ditutup. Apabila di antara shaf wanita dengan shaf lelaki tidak ada penutup, maka sebaik-baik shaf mereka (para wanita) adalah yang paling akhir karena lebih jauh dari lelaki sebagaimana disebutkan dalam hadits1. Namun bila ada pemisah dan penutup antara shaf keduanya maka yang tampak adalah shaf terdepanlah yang paling baik bagi mereka, karena hilangnya perkara yang dikhawatirkan dan juga karena maslahat lebih dekat dengan imam. Wallahu a’lam.” (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/157,158)

Catatan Kaki:
1 Rasulullah n bersabda:
خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf yang awal dan sejelek-jelek shaf lelaki adalah yang akhirnya. Sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang terakhir dan sejelek-jelek shaf wanita adalah yang paling awal.” (HR. Muslim)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kenikmatan surga

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)
Surga adalah negeri kemuliaan yang abadi, negeri yang penuh dengan kenikmatan yang sempurna, yang tak ada cela sama sekali. Berbagai kenikmatan telah Allah l persiapkan di sana. Dalam hadits qudsi, Allah l berfirman:
“Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik di hati manusia.” Kemudian Rasulullah n berkata, “Kalau mau, silakan kalian baca:
“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka. (as-Sajdah: 17)’.” (HR. al-Bukhari no. 3244)
Akan tampak agungnya nikmat surga ketika dibandingkan dengan kesenangan duniawi. Kesenangan dunia dibandingkan dengan kenikmatan akhirat sangatlah rendah. Rasulullah n bersabda, “Tempat cemeti salah seorang kalian di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. al-Bukhari no. 3250)
Oleh karena itu, masuk surga dan selamat dari neraka adalah kesuksesan yang agung, kemenangan yang besar. Allah l berfirman:
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (Ali Imran: 185)
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar.” (at-Taubah: 72)
Setiap muslim pastilah merindukan surga. Merindukan berbagai kenikmatan yang telah dipersiapkan oleh Allah l di sana.

Untuk semakin menambah keimanan kita tentang surga dan menambah kerinduan kita kepadanya sehingga semakin bersemangat beribadah kepada Allah l, maka kami akan paparkan sekelumit pemandangan surga dan berbagai kenikmatan yang telah disebutkan Allah l dan Rasul-Nya.
Sifat-Sifat Surga
Di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah telah banyak disebutkan sifat surga. Dalam kesempatan ini, akan kami sebutkan beberapa di antaranya.
Luas Surga
Allah l telah menjelaskan tentang luas surga dalam firman-Nya:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)
Surga Bertingkat-Tingkat
Telah ada dalam nash yang sahih bahwa surga ada seratus tingkat, jarak antartingkat sejauh langit dan bumi. Dari Abu Hurairah z, dari Rasulullah n yang bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Sesungguhnya di surga ada seratus tingkat yang dipersiapkan bagi para mujahidin di jalan-Nya. Jarak antatingkat seperti jarak bumi dan langit.” (HR. al-Bukhari no. 2790)
Pintu-Pintu Surga
Pintu surga ada delapan, salah satunya bernama Rayyan. Dari Sahl bin Sa’d z, dari Nabi n yang bersabda:
فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ
“Di surga ada delapan pintu. Ada pintu yang dinamai Rayyan, tidak ada yang masuk melalui pintu tersebut melainkan orang-orang yang puasa.” (HR. Buhari: 3257)
Akan ada orang yang dipanggil untuk masuk dari semua pintu, di antara mereka adalah Abu Bakr z. (lihat Shahih al-Bukhari no. 1879 dan Shahih Muslim no. 2418)

Penjaga Surga
Allah l berfirman:
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dibawa ke dalam surga berkelompok-kelompok (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedangkan pintu-pintunya telah terbuka, berkatalah penjaga-penjaganya kepada mereka, “Keselamatan (dilimpahkan) untuk kalian. Berbahagialah kalian! Masukilah surga ini, kalian kekal di dalamnya.” (az-Zumar: 73)
Dari Anas bin Malik z, Rasulullah n berkata:
آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ
Aku mendatangi pintu surga dan minta untuk dibukakan. Penjaga surga pun berkata, “Siapa kamu?” Aku menjawab, “Muhammad.” Penjaga surga berkata, “Aku telah diperintah membukanya untukmu, dan aku tidak boleh membukanya untuk orang lain sebelummu.” (HR. Muslim no. 507)
Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa surga ada penjaganya dari kalangan malaikat.

Yang Pertama Masuk Surga
Orang yang pertama masuk surga adalah Nabi Muhammad n dan umat pertama yang masuk surga adalah umat beliau. Dari Anas bin Malik z, ia berkata bahwasanya Rasulullah n bersabda:
آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ
Aku mendatangi pintu surga dan minta untuk dibukakan. Penjaga surga pun berkata, “Siapa kamu?” Aku menjawab, “Muhammad.” Penjaga surga berkata, “Aku telah diperintah membukanya untukmu, dan aku tidak boleh membukanya untuk orang lain sebelummu.” (HR. Muslim no. 507)
Dalil yang menyatakan bahwa umat Muhammad n yang paling dahulu masuk surga adalah hadits:
نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
“Kita adalah yang terakhir (masanya di dunia), tetapi yang pertama di hari kiamat. Kitalah yang akan masuk surga lebih dahulu.” (HR. Muslim)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

tata cara berwudhu

Tata Cara Berwudhu Dan Tuntunan Wudhu Rasulullah
Posted by Abuzaid 28 Okt 2012 1 komentar
doa wudhu
Berikut adalah tata cara berwudhu yang kami kutip dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh Nashir as-Sa'dy tata cara berwudhu Rasulullah yang kami ketengahkan ini adalah sangat ringkas,sehingga penyebutan dalil tidak terlalu banyak akan anda lihat:

    Pertama-tama hendaknya dia berniat untuk mengangkat hadats,atau berwudhu untuk sholat dan lain sebagainya,dan niat adalah syarat diterimanya segala amal ibadah baik berupa wudhu dan ibadah lainnya,karena Rasulullah bersabda:"Sesungguhnya amal ibadah tergantung dari niatnya".HR.Bukhari (1),Muslim (1907).Namun perlu diingat bahwasanya niat itu letaknya dalam hati jadi tidak perlu melafazkan niat untuk wudhu.
    Lalu setelah itu hendaknya dia mengucapkan"Bismillah".
    Lalu membasuh kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali.
    Kemudian berkumur-kumur serta melakukan istinsyaq dengan 3 cedokan air.
    Kemudian hendaknya dia membasuh mukanya sebanyak tiga kali.
    Lalu membasuh kedua tangannya sampai ke kedua siku sebanyak 3 kali (ini yang paling sempurna walaupun boleh kurang tiga kali).
    Membasuh kepalanya mulai dari kepala bagian depan sampai ke tengkuk dengan memakai tangannya,lalu mengembalikan tangannya ke tempat di mana dia memulai basuhan tadi.
    Lalu hendaknya dia memasukkan kedua telunujk (baik yang kanan maupun kiri) ke telinga dan membasuh bagian luar telinga dengan kedua jempolnya.
    Kemudian hendaknya dia membasuh kedua kakinya sampai ke mata kaki,masing-masing tiga kali.

tata cara berwudhuBeginilah tata cara berwudhu yang paling sempurna yang diperintah oleh Rasulullah,untuk dalilnya lihat hadit Ustman dalam Shahih Bukhari(159),Muslim(226).
Pembatal-pembatal Wudhu
Mengenai pembatal-pembatal wudhu maka di sini akan kami sampaikan secara ringkas:

    tata cara wudhu Rasulullah
    Keluarnya sesuatu dari qubul dan dubur.
    Hilangnya akal dengan tidur dan sejenisnya.
    Makan daging unta juga membatalkan wudhu menurut pendapat yang rajih,karena Nabi-shallallahu alaihi wasallam-ditanya,Apakah kami wajib berwudhu jika makan daging unta? Maka beliau menjawab:"Ya".(HR.Muslim.360).
    Memegang kemaluan dengan syahwat dan tanpa penghalang.
    Murtad,adapun murtad ini maka bisa menghapus semua amal ibadah.

Doa Wudhu
Setelah selesai berwudhu kita disunnahkan membaca doa wudhu di bawah ini:

َشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,الَّلهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Asyshadu an la ilaha illallahu wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah,Allahummaj alni minat tawwabin waj alni minal mutatahhirin”.(Iwa’ul Ghalil.1/122,Muslim.1/209).
Artinya:
“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa,tiada sekutu bagi-Nya,dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya,Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang beertaubat,dan jadikanlah aku orang-orang yang suci”
Shalat Wudhu
Setelah kita berwudhu kita disunnahkan untuk melakukan shalat wudhu atau shalat sunnah wudhu sebanyak 2 rakaat,mengenai dalil tentang hal ini Rasulullah bersabda kepada Bilal:"Wahai Bilal amalan apa yang paling engkau harapkan pahalanya di sisi Allah setelah engkau masuk Islam? karena saya mendengar bunyi sendalmu di dalam surga,Bilal menjawab:"Tidak ada amalan yang paling aku harapkan pahalanya selain sebuah amalan yaitu tidaklah aku berwudhu,melainkan aku shalat setelah wudhu itu semampuku (maksudnya shalat sunnah wudhu)".(HR.Bukhari.1149/34/3).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

larangan berprasangka,memata-matai dan bergunjing

BERPRASANGKA, MEMATA-MATAI, BERGUNJING
Allah SWT berfirman didalam Surat Al-Hujurat Ayat 12,

Wahai orang-orang beriman, jauhkanlah dirimu dari banyak berprasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah perbuatan dosa. Dan jangan pula saling memata-matai maupun menggunjing satu sama lain. Adakah salah seorang diantaramu gemar memakan daging mayat saudaramu sendiri? Pastilah kamu merasa jijik! Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.

Didalam ayat ini Allah SWT mengajarkan kepada kita tentang hak untuk saling dihormati dan etika sosial (tatakrama bermasyarakat). Kita diperintahkan-Nya untuk tidak mengacaukan suasana dalam bentuk berprasangka, memata-matai, maupun bergunjing perihal orang lain di keseharian hidup kita.

Marilah kita telaah satu-persatu perilaku yang dilarang Allah SWT ini, mulai dari berprasangka. Ada dua macam prasangka, prasangka baik (Khusnudh-Dhan) dan prasangka buruk (Su’udh-Dhan). Imam Abu Bakr Jashash didalam buku beliau Al-Ahkamul-Qur’an membagi prasangka kedalam empat kategori.
Empat kategori itu didasarkan pada sifat prasangka itu, yakni: Haram (dilarang), Wajib (harus dilakukan), Mustahab (dapat dimengerti) dan Mubah (dapat diterima)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kewajiban wanita dalam islam

1. Menta’ati Suami, Selama Bukan Untuk Maksiat.
Rasulullah saw. bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kalian dan perbanyakkanlah istighfar. Karena, aku melihat kaum wanitalah yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka. Seorang wanita yang cukup pintar di antara mereka bertanya: Wahai Rasulullah, kenapa kami kaum wanita yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka ? Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu banyak mengutuk dan mengingkari suami…. (Hr. Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’I dan Ibnu Majah, redaksi menurut imam Muslim).

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

kalau saja aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya aku akan perintahkan seorang isteri bersujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, sungguh seorang isteri itu tidak dikatakan menunaikan hak Rabb-nya hingga ia menunaikan hak suaminya. Kalau saja suami memintanya untuk dilayani, sementara ia sedang berada di atas pelana kendaraan, maka ia tidak boleh menolaknya." (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, Ahmad & Ad Darimi)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

hukum wanita bekerja dan syaratnya

Wanita adalah manusia juga sebagaimana laki-laki. Wanita merupakan bagian dari laki-laki dan laki-laki merupakan bagian dari wanita, sebagaimana dikatakan Al-Qur’an:
“…Sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain …” (QS. Ali Imran: 195)

Ilustrasi. (sinarharian.com.my)
Manusia merupakan makhluk hidup yang di antara tabiatnya ialah berpikir dan bekerja (melakukan aktivitas). Jika tidak demikian, maka bukanlah dia manusia.
Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan manusia agar mereka beramal, bahkan Dia tidak menciptakan mereka melainkan untuk menguji siapa di antara mereka yang paling baik amalannya. Oleh karena itu, wanita diberi tugas untuk beramal sebagaimana laki-laki – dan dengan amal yang lebih baik secara khusus – untuk memperoleh pahala dari Allah Azza wa Jalla sebagaimana laki-laki. Allah SWT berfirman:
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan…’” (QS. Ali Imran: 195)

Siapa pun yang beramal baik, mereka akan mendapatkan pahala di akhirat dan balasan yang baik di dunia:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

wanita bekerja dalam pandangan islam

Dewasa ini tampak semakin banyak wanita yang beraktivitas di luar rumah untuk bekerja. Ada yang beralasan mencari nafkah, mengejar kesenangan, menjaga gengsi, mendapat status sosial di masyarakat sampai alasan emansipasi. Anehnya banyak pula para wanita yang mengeluh ketika harus menghadapi ketidaklayakan perlakuan. Diantaranya cuti hamil yang terlalu singkat (hak reproduksi kurang layak), shift lembur siang-malam, sampai pelecehan seksual. Lalu bagaimana Islam memandang permasalahan ini ?

A. Wanita Bekerja, Bolehkah ?
Allah telah menciptakan pria dan wanita sama, ditinjau dari sisi insaniahnya (kemanusiaannya). Artinya pria dan wanita diciptakan memiliki cirri khas kemanusiaan yang tidak berbeda antara satu dengan yang lain. Keduanya dikaruniai potensi hidup yang sama berupa kebutuhan jasmani, naluri dan akal. Allah juga telah membebankan hukum yang sama terhadap pria dan wanita apabila hukum itu ditujukan untuk manusia secara umum. Misalnya pembebanan kewajiban sholat, shoum, zakt, haji, menuntut ilmu, mengemban dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan yang sejenisnya. Semua ini dibebankan kepada pria dan wanita tanpa ada perbedaan. Sebab semua kewajiban tersebut dibebankan kepada manusia seluruhnya, semata-mata karena sifat kemanusiaan yag ada pda keduanya, tanpa melihat apakah seseorang itu pria maupun wanita.
Akan tetapi bila suatu hukum ditetapkan khusus untuk jenis manusia tertentu (pria saja atau wanita saja), maka akan terjadi pembebanan hukum yang berbeda antara pria dan wanita. Misalnya kewajiban mencari nafkah (bekerja) hanya dibebankan kepada pria, karena hal ini berkaitan dengan fungsinya sebagai kepala rumah tangga. Islam telah menetapkan bahwa kepala rumah tangga adalah tugas pokok dan tanggung jawab pria. Dengan demikian wanita tidak terbebani tugas (kewajiban) mencari nafkah, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya. Wanita justru berhak mendapatkan nafkah dari suaminya (bila wanita tersebut telah menikah) atau dari walinya (bila belum menikah). Bahkan sekalipun sudah tidak ada lagi orang yang bertanggung jawab terhadap nafkahnya, Islam telah memberikan jalan lain untuk menjamin kesejahteraannya, yakni dengan membebankan tanggung jawab nafkah wanita tersebut kepada Daulah (Baitul Maal). Bukan dengan jalan mewajibkan wanita bekerja.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS